Rumah Betang-Sungai Utik Desa Batu Lintang, Kapuas Hulu sebagai Tujuan Desa Wisata

Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat,  bersama Komunitas Masyarakat Adat Rumah Betang Sungai Utik, berhasil menambah pundi-pundi Penerimaan Asli Desa (PAD) dengan  mengusung wisata sejarah desa dan warisan budaya adat Dayak Iban. Selain itu, kekayaan khasanah budaya dan adat pun dapat lestari bahkan bekembang sebagai potensi wisata yang mulai dikenal luas. Bahkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap budaya leluhur tambah menguat.

Sejak 2014, gagasan untuk pendayagunaan kekayaan khasanah budaya dan adat istiadat desa belum dikembangkan dan dikelola dengan baik sebagai potensi wisata. Padahal  Desa Batu Lintang merupakan desa yang memiliki potensi untuk menjadi Desa Wisata, dengan beberapa kondisi:

  • Banyak turis / wisatawan mancanegara tidak mendapat layanan wisata yang nyaman.
  • Banyaknya akademisi mengadakan penelitian di  Rumah Betang Sungai Utik, namun masyarakat dan desa tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang sejarah berkaitan desa dan adat budaya.
  • Banyaknya pengangguran di desa akibat larangan membakar lahan untuk berladang.
  • Ada kekayaan potensi seni  kreatif seperti kerajinan etnik mulai dari kain tenun, ukiran, kerajinan manik-manik Dayak dan seni tatto tradisional.

Alih teknologi kerajinan Dayak di Desa Batu Lintang

  • Masyarakat kurang peduli terhadap keberadaan situs sejarah di desa (termasuk rumah adat), padahal sebagian besar rumah penduduk mengusung  khas adat Dayak.
  • Adanya program Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu yang mengarahkan kebijakan Kabupaten Kapuas Hulu sebagai destinasi wisata dunia.
  • Masih terbatasnya penerimaan PAD, padahal desa memiliki sejumlah potensi situs sejarah dan seni kreatif

Proses

  • Tahun 2014 diadakan beberapa pertemuan warga komunitas Rumah Betang Sungai Utik membahas gagasan dan pengambilan permufakatan pengembangan Rumah Betang Sungai Utik sebagai destinasi wisata.
  • Tahun 2014 menyepakati penyusunan aturan-aturan pengelolaan dan pemanfaatan hutan dalam skala besar (deforestisasi) serta menolak penggunaan lahan desa untuk perkebunan sawit.
  • Tahun 2015 warga membentuk Pokdarwis sekaligus
  • melengkapinya dengan perangkat organisasi. Pokdarwis bertugas mengatur wisatawan yang berkunjung ke Rumah Betang Sungai Utik.
  • Tahun 2015, karena pengunjung semakin banyak dan menginap, Pokdarwis mendorong masyarakat untuk menjadikan rumahnya menjadi homestay.
  • Tarif menginap disepakati bersama (Rp50.000/orang/ malam ditambah uang makan Rp.30.000/orang/1 x makan).
  • Sejak tahun 2016 pengelola wisata menyelenggarakan event tahunan Gawai Dayak di Rumah Betang Sungai Utik dan adat Niling Bidai (upacara adat penutupan Gawai Dayak) pada tahun 2018 untuk melestarikan budaya lokal sekaligus menguatkan daya Tarik kunjungan wisata

Sumber:

https://inovasidesa.kemendesa.go.id/kelola-destinasi-wisata-sejarah-dan-adat-sungai-utik-desa-batu-lintang-mampu-kurangi-angka-pengangguran-dan-tingkatkan-pendapatan-asli-desa/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *