Desa Wisata Bobung, Budaya dan Optimalisasi Hutan Rakyat Gunungkidul

Kisah-kisah teladan pemanfaatan hasil hutan untuk ekonomi rakyat adalah bagian dari narasi besar dan panjang upaya Pemerintah Indonesia melakukan demokratisasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat dalam satu dekade terakhir. Kreativitas peningkatan nilai tambah selain menjual kayu saja dari Hutan Rakyat (HR) bertujuan mengentaskan kemiskinan, serta memberikan peluang bagi masyarakat lokal mengelola hutannya sendiri, dan mengembangkan penghidupan berkelanjutan di dalam dan sekitar hutan.

Di tengah masyarakat modern yang berkembang saat ini, topeng kayu masih diminati sebagai  bentuk karya seni yang memadukan nilai estetika dan spiritualitas. Namun, bagi sebagian pengrajin topeng Dusun Batur, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul membuat topeng adalah mengukir sejarah untuk diteruskan ke anak cucu. Selain sebagai peluang usaha dan wirausaha yang cukup eksentrik, membuat topeng ternyata juga sekaligus memanfaatkan potensi kayu Hutan Rakyat di wilayah mereka.

Dusun Batur, Desa Putat, Kecamatan Patuk menjadi salah satu sentra kerajinan kayu yang inspiratif sekaligus terbukti meningkatkan nilai tambah dari hasil kayu Hutan Rakyat (HR) setempat. Kawasan ini dikenal sebagai Desa Wisata Bobung. Desa wisata Bobung dapat diakses dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Lokasinya yang berdekatan dengan jalan Jogja-Wonosari memudahkan akses wisatawan untuk berkunjung ke desa wisata Bobung.

Desa wisata Bobung sendiri diresmikan oleh Pemkab Gunungkidul pada tahun 2001 menjadi desa kerajinan topeng batik kayu. Kerajinan tangan klasik dan tradisional ini sejalan dengan visi dan misi pemerintah yang akan mendukung penuh bidang ekonomi kreatif dan perhutanan sosial termasuk didalamnya kegiatan dan usaha dalam berkesenian dan budaya yang mengoptimalkan potensi lokal.

Sejarah pembuatan topeng kayu disini dimulai dari kebiasaan masyarakat sekitar dengan menggelar pentas seni tari topeng setiap musim panen tiba yaitu tarian Topeng Pandji.  Topeng panji merupakan bagian dari ritual sedekah bumi, sebagai bentuk rasa syukur kepada pencipta. Hingga kini tarian topeng pandji masih sering dipentaskan sebagai daya tarik wisata di desa ini. Dari sinilah ide pembuatan topeng kayu batik muncul dari seorang penari bernama Sajiman.

Awalnya topeng kayu hanya diproduksi untuk keperluan pentas tari saja. Ketika banyak wisatawan yang menyukai topeng panji sebagai suvenir, kerajinan ini berkembang. Produksi kayu lain seperti nampan, wayang, gantungan kunci, dan lainnya juga dibuat oleh para pengrajin. Hingga kini tidak kurang sekitar 800 pengrajin topeng kayu batik di desa ini.

Kerajinan kayu desa wisata Bobung berkembang tidak hanya berbentuk topeng saja. Berbagai kerajinan batik kayu seperti nampan, gantungan kunci, wayang dan bentuk-bentuk lainnya juga diproduksi disini. Bahkan salah satu jenis kerajinan yakni kayu alfabet telah menjadi andalan dan diekspor hingga Taiwan untuk dijadikan alat pembelajaran. Kini kerajinan kayu di Dusun Batur juga terus didorong untuk dikembangkan agar menjadi salah satu produk andalan di Desa Putat. Dusun Batur yang memiliki sekitar 60 kepala keluarga itu hampir 80% diantaranya menjadi perajin kayu.

Kerajinan kayu alfabet di Taiwan banyak dimanfaatkan sebagai alat belajar di sekolah. Anak-anak di tingkat taman kanak-kanak dikenalkan huruf melalui kegiatan mewarnai kerajinan berbentuk abjad itu. Selain sebagai alat pembelajaran, kerajinan kayu berbentuk abjad itu juga banyak diminati untuk dijadikan nomor rumah ataupun hiasan ruangan. Menurut kabar yang beredar, omset desa ini dari kerajinan kayunya sudah mencapai Rp. 3 Milyar tiap bulannya.

Selain Taiwan, pasar ekspor produk olahan kayu desa ini sudah menembus Eropa (khususnya Belanda), Amerika, Afrika dan Australia. Sebuah prestasi yang membanggakan!

Salah satu penyuplai kayu untuk kerajinan di daerah ini adalah Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari melalui skema Hutan Rakyat (HR). Hutan Rakyat di lokasi ini adalah seluas 175,21 hektar dengan umur tanaman 5-6 tahun yang pada awalnya areal ini berupa kebun singkong. Hutan Rakyat (HR) merupakan salah satu skema perhutanan sosial yang banyak diminati di Pulau Jawa.

Beberapa jenis tanaman yang terdapat pada hutan rakyat antara lain gmelina (Gmelina arborea), sonokeling (Dalbergia latifolia), pulai (Alstonia scholaris), mahoni (Swietenia sp.), glugu dan sengon laut. Dukungan KLHK kepada masyarakat adalah dalam pembuatan Kebun Bibit Rakyat (KBR). Selain itu, dukungan juga diberikan oleh BPDASHL Yogjakarta dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai jenis bibit yang baik untuk ditanam.

Hutan Rakyat (HR) berkontribusi dalam suplai bahan baku kayu untuk kerajinan. Jenis tanaman yang sering digunakan sebagai bahan kerajinan adalah gmelina dan sengon laut (bahan baku kerajinan berupa miniatur) serta Pulai (bahan baku topeng). Kerajinan yang dibuat berupa miniatur, patung, topeng, wayang ataupun jenis lain sesuai pesanan. Produk-produk kerajinan tersebut dipasarkan di wilayah Yogjakarta, Jakarta hingga  mancanegara. Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (HHK) di hutan rakyat dilatarbelakangi oleh keinginan masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi dari hasil hutan rakyat tersebut.

Sampai saat ini pendapatan Kelompok Kerajinan Putra Kerabat, yang merupakan kelompok pengrajin sebagai pemanfaat Hasil Hutan Kayu (HHK) hutan rakyat Wana Lestari mencapai 30 juta/bulan. Namun dalam pelaksanaannya, kelompok kerajinan ini sering mengalami beberapa kendala yaitu ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja yang terbatas sementara pesanan banyak, belum memiliki Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) sehingga hasil hutan rakyat ini dijual langsung melalui desa dan terbatasnya sumberdaya (pengrajin yang ahli) bahkan pembuatan kerajianan masih dilakukan secara manual (keterbatasan alat produksi). Oleh karena itu, masyarakat menginginkan adanya dukungan dari pusat berupa peralatan untuk memproduksi hasi hutan kayu untuk pembuatan kerajinan.

Sumber: https://www.kompasiana.com/andisetyopambudi5192/5e8725ef71d69607e737e432/menengok-gunungkidul-mengagumi-kreativitas-perhutanan-sosial-desa-wisata-bobung?page=all#sectionall

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *